Definisi Dan Cara Penanganan Penyakit Hirschprung

Hirschprung

Hirschprung

Terkait bentuk feses yang berwarna hijau dan dugaan sakit Hirschprung yang dialami oleh Airlangga Satriadhi Yudhoyono, sumber pun mencari informasi dengan mewawancarai dr. Fajar Subroto SpA dokter anak dari Rumah Sakit Harapan Kita. “Yuk langsung ke ruangan saya saja,” tutur dokter ramah ini.

Soal feses yang berwarna hijau yang dialami oleh Airlangga, ia mengatakan, umumnya feses atau kotoran bayi yang baru lahir justru berwarna kuning atau hijau. “Semuanya tergantung dari banyak hal, seperti makanan yang dikonsumsi ibu sewaktu menyusui Si bayi, kalau si ibu konsumsi zat besi maka feses bayi akan berwarna hijau,” jawab dr. Fajar.

Sementara menyinggung penyakit Hirschprung, dr Fajar mendefinisikan jika penyakit ini adalah penyakit bawaan yang menyerang organ pencernaan bayi. Lebih lanjut dr Fajar mengatakan, Hirschprung adalah suatu kelainan karena ganglion atau saraf yang berada di rektum atau bagian pembuangan paling bawah tidak terbentuk pada bayi. “Kelainan ini terjadi secara parsial atau separuh, bisa juga total,” ungkapnya.

Adapun yang dimaksud kelainan parsial adalah, di mana bayi memiliki anus yang lengkap dan dari luar terlihat normal, namun rectum pada anus bayi tidak memiliki persyarafan hingga tidak bisa membuka sendiri. Sedangkan bila terjadi kelainan total artinya terjadi penyumbatan dan harus dilakukan penanganan dengan operasi. “Kalau didiamkan perut bayi bisa kembung dan infeksi,” tegasnya.

Operasi yang harus dilakukan disebut operasi kolostomi, yaitu operasi dengan membuat lubang buatan di perut. Kolon atau usus paling bawah akan ditempel di perut sehingga feses bayi akan keluar dari lubang buatan tersebut. Namun jika bayi sudah agak besar, sekitar umur dua tahunan, akan dilakukan operasi Ianjutan untuk memperbaiki ganglion, yang akan mengembalikan lubang pembuangan kembali normal, yaitu melalui anus.

Hirschprung total menyebabkan anus paling bawah akan terganggu, sehingga kotoran atau feses menumpuk. Penumpukan itu semakin kembung, seperti ada yang menahan di bagian bawah. Jika kotoran semakin banyak, rektum akan semakin membesar sehingga kemudian akan terjadi tanda-tanda obstruksi.

Tanda-tanda penyumbatan usus tersebut biasanya berupa kembung, perut membuncit, dan muntah, kemudian tidak bisa buang air besar. Dari tanda-tanda seperti itu biasanya dokter akan melakukan tindakan berupa colok dubur. Dengan colok dubur, feses keluar dengan cara menyemprot. Jika tidak diulangi akan kembung lagi, kemudian colok lagi, dan begitu seterusnya, sehingga harus dilakukan colok anus untuk keluarkan feses.